Sabtu, 11 Juli 2015

KULIAH PRAKTEK ATAU KAKI PEGAL? #1




KAKI PEGAL? Ya, KP yang katanya kerja praktek, saya lalui dengan kaki pegal. Liburan ini terlalu banyak berjalan ya. Begitu juga dengan waktu yang berjalan.
Saat itu, awal semester 2 tepatnya saya sudah gencar membuat yang namanya CV dan Portofolio. Saya mulai gencar mencari perusahaan yang menurut saya menarik dan cocok. Saya memutuskan tidak ingin bekerja di Jakarta dan juga tidak ingin memilih furnitur. Saya lelah dengan kemacetan dan juga belajar tentang furniture yang saya bingung.

Saya pada awalnya ingin sekali magang di sebuah studio consultancy design, ya seperti IDEO atau Frog. Yang keren ituloh. Berbagai ilmu disiplin terutama product design sangat berperan menciptakan berbagai pemecah masalah dalam bentuk produk. Wah itu cita-cita saya! Yang baru saya temukan saat tingkat 2 sih.

Bicara soal cita-cita, saya selalu berganti-ganti, maklum saya banyak maunya. Yang penting saya dapat membahagiakan banyak orang dan diri saya sendiri tentunya. Amiiin.
Yap. Saya mendaftar di 2 tempat konsultan desain produk di luar negri sana (gaul abis kan?), namun tak kunjung dapat balasan, saya menyerah deh. Segampang itu? Iya. Ga ada duit. Hemmm. Lalu saya juga mendapat informasi dari teman dan dosen kira-kira apa yang cocok untuk saya. Ada sih konsultan desain produk, namun lebih ke produk interior, tapi menarik. Sayapun mengirim proposal saya.

1 hari, 2 hari, 3 hari, seminggu, dua minggu… Ah saya mah orangnya ga sabaran. Jadi setelah dua minggu, saya tidak menelepon atau email ulang, saya mencari tempat lain yang cukup menarik, tapi furniture, rotan. Sepertinya saya sudah merasakan ketidaksabaran saya. Saya memilih tempat itu karena tokoh dari pemilik studio sangat inspiratif. Dia sudah pernah pameran dimana-mana, dia adalah kakak kelas yang baru saja dikenal. Sayapun mengirim portofolio saya, dan diwawancara seminggu kemudian. Kemudian saya menunggu lagi untuk seminggu lamanya, dan tidak diterima.

Yah, saya coba lagi di tempat lain dan hampir mendaftar, tiba-tiba konsultan desain yang saya tinggal sebulan lamanya menghubungi saya dan waw! Saya diminta untuk datang ke kantor mereka. 5 jam perjalanan bahkan saat itu ada kecelakaan maut di jalan tol dari arah Bandung. Hemm saya merasakan adanya feeling-feeling aneh. Sesampainya di studio itu, waw lagi! Kantornya keren! Saya minta doa restu emak dari telpon, semoga diterima. Tapi wawancara hanya berjalan 10 menitan. Kemudian pewawancara meninggalkan saya diruangan. Loh udah? 5 jam perjalanan, 10 menitan aja wawancaranya nih? Hiks. Akhirnya saya pergi.

Dua minggu tak ada kabar, akhirnya saya menelepon mereka. Tapi mereka bilang bahwa mereka sedang full. What the???? Yasudah langsung saya mendaftar tempat cadangan saya di suatu perusahaan furniture (lagi) yang menjanjikan akomodasi, tempat tinggal di Cirebon dan Bali. Yasudah saya tenang karena sudah mendapat tempat KP.

Saat itu seharusnya tanggal 10 Juni saya mulai magang, tapi manajer memundurkan jadwal karena kesibukkannya. Seminggu kemudian, ia sulit sekali dihubungi dan akhirnya saya ke Cirebon, sampai disana ia mengangkat telepon dan menanyakan tempat tinggal yang nanti akan digantikan biayanya. Kami sedikit lega. Kecurigaan besar muncul ketika saya dan teman saya tidak dapat menghubungi manajer itu. Aneh, karena ia sengaja tidak membalas sms dan tidak mengangkat telepon. Bahkan saat ke pabrik, manajer itu sedang pergi, bahkan pegawai lainnya tidak tahu jika kami datang untuk magang. Akhirnya kami biarkan seminggu, dan sampai 2 minggu. Ia pun membalas hanya sesekali. Lalu lost contact. Untung saja saya dan teman yang setia menemaniku memiliki proyek lain di Cirebon, sehingga kami tidak sia-sia di sana. Huh.

2 minggu berlalu semenjak di Cirebon, langsung saya dan teman saya mendaftar di tempat lain. Saya bahkan mendaftar di tiga tempat. Langsung saja saya mengirimkan CV dan Portofolio saya. Saya sudah panik. Tapi kepanikkan itu sebenarnya tidak ada gunanya. Ternyata saya langsung diterima di tiga tempat tersebut. Oh no! Akhirnya saya memutuskan memilih salah satu diantaranya. Saya meminta maaf kepada dua perusahaan lainnya, 1 yayasan sosial pengolahan sampah, satu lagi perusahaan furnitur besar di Bali.

Mama berkata “ Tuhan tahu kamu akan ditempatkan dimana, kamu ditolak terus di perusahaan sebelumnya karena Tuhan ngga mau kamu disana”. Waw, ma.

Saya akhirnya ditempatkan di suatu lembaga pemerintahaan yang bahkan anak desain produk jarang yang terjun ke bidang tersebut. Teman yang lain saya saja magang di pemerintahaan, tiba-tiba banyak polisi datang dan memenjarakan bossnya huh. Keren sih. Jadi saya magang...
Eh di Jakarta loh (sepertinya Tuhan menguji agar saya lebih terbuka)
Eh furniture loh (untung tentang public furniture, bukan furnitur komersil (soalnya udah pernah))
Tanpa pikir panjang saya langsung meng-iyakan. Untung ada teman sekelas yang saat itu merekomendasikan. Untung teman-teman DP sangat baik dalam memberkan informasi. Yes. #INDDESBANGGA

Semoga dengan Tuhan memberi jalan ini, saya dapat berkontribusi lebih untuk masyarakat, bukan untuk kepentingan sendiri saja. Banyak sekali pelajaran hidup yang saya dapatkan. Semoga KP juga berjalan dengan lancar
Kembali bicara soal KP alias Kaki Pegal. Ya saya akhirnya menghabiskan waktu KP lebih banyak berjalan-jalan.. hemm ya bersambung


Kamis, 09 Juli 2015

BERJALANLAH






Berjalan dengan kaki maksudnya.

Ketika manusia ingin sebuah kepraktisan, barangkali mereka enggan untuk melakukan apa yang dulu pernah dilakukan, hal yang tidak enak tentunya.

Ketika saya tinggal sendirian di tempat lain, saya mencoba untuk berjalan kaki. Dengan berjalan kita akan sadar dengan keadaan sekeliling.

Sering sekali melihat fenomena-fenomena yang tidak begitu terasa bila dirasakan hanya di dalam sebuah bak berjalan ataupun sepeda bermesin.

Kapan bisa melihat seorang pengendara motor yang rela membuang waktunya untuk turun ke jalan mengatasi kemacetan di perempatan jalan.

Kapan bisa dapat mendengar tangisan seorang bapak yang tua, yang mengatakan bahwa ia menderita ingin lepas dari penderitaan itu kepada istrinya.

Kapan bisa merasakan seorang pemulung yang kusut melewati diri Anda.

Kapan bisa merasakan lelahnya kaki saat trotoar tidak lagi lurus.

Kapan bisa berbincang dengan orang yang anda tidak kenali dan bahkan berbagi tawa dengan mereka.

Kapan…

Kapan bisa melihat pemandangan yang bisa dirasakan.

Bersyukur sekali kedua kaki ini dapat menopang hidup. Jangan sia-siakan, bahkan orang yang tidak memilii kaki ingin sekali berjalan bahkan berlari.

The world is really beautiful, let’s walk by your legs.

*kaki belang :(